Tahajud membuatku berkurban 2 ekor sapi

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar

Laailahaillallahuallahuakbar Allahuakbar Walillahilham.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1438 H

Taqobbalallahu minna wa minkum

Saudaraku seiman, dalam kesempatan dihari yang begitu agung ini perkenankan kami berbagi kisah yang sengaja kami simpan sebelum benar2 terjadi…

Yup betul, benar2 terjadi.

Sumber Gambar : Pexels

Satu tahun yang lalu, kami mengikuti iuran untuk membeli hewan kurban, kurang lebih untuk bisa membeli se ekor sapi. Setahun pun berlalu, kurang dari 10 hari lagi akan datang hari raya kurban. Dalam hati kami bertanya2, apakah ada kesempatan untuk mewakili teman2ku menyalurkan kurban. Karena memang, bibi yang bantu2 di rumah kami dulu, lingkungan di mana dia tinggal, tidak ada yang kurban sapi di sana padahal rata2 ekonomi warga di sana bisa dibilang belum mampu secara ekonomi.

Kira2 sudah H-7, temanku yang biasa mengorganisir iuran sapi menghubungiku, meminta alamat mushola tempat bibi kami tersebut diatas untuk disalurkan kurban sapi. Subhanallah. Masya Allah….

Memang betul, temanku itu adalah sahabat baik ku bahkan lebih dari saudara. Namun, kami tidak setitikpun melobby beliau untuk memberikan kami kesempatan menyalurkan kurban tersebut.

Saudaraku seiman, inilah bedanya antara kita berdo’a dan mengharap pertolongan Allah terlebih dahulu dengan yang tidak melalui do’a dan pengharapan. Begitu keadaan/kejadian sesuai harapan, keyakinan kita bahwa Allah ada dan pertolongan-Nya benar2 nyata akan semakin tebal. Didalam lubuk hati akan timbul keoptimisan sekaligus kemantapan hati untuk menerima apapun yang diputuskan Allah.

Cerita tidak berhenti di sini saudaraku, bibi yang bantu-bantu di rumah mertua  juga mempunyai kondisi ekonomi yang juga dibawah rata2.

Ada perasaan gak enak juga, kalo sapi kurban diberikan hanya di ‘kampungnya’ mantan bibi kami, namun gimana lagi, sapinya cuma atu.

Waktupun berlalu, dan kamipun masih tetap mencoba rutin bertahajud, namun memang tidak khusus berdo’a untuk masalah dilema ini.

Inilah dahsyatnya tahajud, ‘bonus2’ dari ibadah kita tersebut benar2 bikin kita ‘ketagihan’ untuk terus menjaga dan mendirikannya setiap malam. Bahkan walau tersisa hanya beberapa menit saja, sayang rasanya untuk dilewatkan.

Sore itu, hari terakhir kerja minggu ini, 3 hari lagi lebaran. Temanku yg diceritakan di atas, mampir ke ruangan kantor kami. Biasalah namanya sahabat, ngobrol ngalor ngidul seputar pekerjaan kami.

Tiba2 raut wajanya sedikit tegang dan dia pamit keluar sebentar…. Tak lama diapun kembali dan mengatakan bahwa silahkan sapi yang satu lagi dicarikan masyarakat yang membutuhkan. Subhanallah.

Rupanya, di kelompok iuran sapi yang lain, ada salah satu peserta yang mengundurkan diri dengan suatu alasan. Sehingga sapi yang tadinya diperuntukan untuk kawan tersebut akhirnya berstatus Free heheheh… banyak sich yang bersedia menerima kurban tersebut namun rupanya konsep penyaluran kurban kami adalah untuk masyarakat yang memang ¬†ekonominya masih membutuhkan bantuan.

Allahuakbar. Jika ‘bonus’ tahajud saja demikian ‘luar biasa’ lalu bagaimana ‘hadiah utamanya’ ?

Masya Allah. Tepat H-2 aku dan istri ‘survey’ ke TKP.

Wow…lokasinya…berada di tepian sungai musi…namanya ‘Tanah Malang’, tidak sulit memang mencapainya, namun mendebarkan… jalan beton sempit yang dibangun program PNPM, dibangun bertiang, melewati perkampungan dengan kondisi khas tepian sungai, lebar jalan sekitar 4 meteran mepet, yang jika ada mobil berpapasan tentu saja harus ekstra hati2. Makin ke ujung makin sempit. Dan ketika sudah sampai di ujung jalan, kamipun meninggalkan kendaraan di depan rumah warga, melanjutkan perjalanan kaki di jalan beton bertiang selebar 2 sepeda motor.

Sampai di lokasi, kami pun semakin yakin bahwa apa yang diamanatkan telah benar2 sesuai harapan. 2 buah mushola yang terdiri dari 2 RT dengan KK masing2 sekitar 80an. Yang mata pencaharian mereka mayoritas adalah buruh kasar dan nelayan.

Pulangnya… O ow… ada sebuah mobil yang parkir persis dibelakang kendaraan kami. Yang pemiliknya tidak diketahui siapa, kemana dan berapa lama.Tidak masalah sih kalau posisi kami mau pergi tadi. Lha ini kan pulang ? Setelah memutar kendaraan di jalan sempit, tibalah saatnya harus melewati ‘tantangan’…kiri sungai musi, kanan body mobil orang… terlihat, jalan cor beton bertiang di sebelah kiri ini sudah bentuk v, alias ambles…keringat dingin brother hahahahah….

Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah dan orang sekampung hahahaha….kamipun selamat melewati ‘tantangan’.

Singkat cerita, H-1 sapi yang ditunggu2 telah datang, masing2 dalam kondisi sehat dan siap untuk di kurbankan heheheh….

Dan hari ini, pagi tadi, Alhamdulillah… kami menyaksikan sendiri, darah ke dua ekor sapi kurban tumpah membasahi bumi allah.

Allahuakbar…Allahuakbar…Allahuakbar.

Demikianlah saudara2 ku…sebuah kisah dari jalanan..kisah yang kami alami… bukan untuk menggurui.

Semoga bisa menjadi motivasi kita untuk memberikan yang terbaik untuk saudara2 kita yang lebih membutuhkan.

Uang bukanlah hal yang utama..Allah benar-benar tau, siapa yang punya niat yang tulus…Allah juga menyaksikan siapa hamba-Nya yang bela-belain berdiri di 1/3 malam disaat orang lain tertidur.

Luruskan niat, maksimalkan ibadah dan sempurnakan ikhtiar. Semoga Sukses !!!

Salam Satu Jari Tauhid

Reply