Bagian dari Skenario yang lebih besar

Siapa sih yang gak ingin tenang ?
Siapa sih yang gak pingin tentram ?

Namun sungguh,
Hidup ini sunatullahnya selalu hadir
Kegelisahan, Kekhawatiran, Kekecewaan bahkan Ketakutan

Sudah dicoba memperbanyak sujud,
Sudah dicoba berdo’a yang khusuk,
Alhamdulillah, hati memang lebih tenang
Namun sepertinya masih ada yang kurang ?
Masih ada yang ketinggalan
Masih ada pemahaman yang belum paham

Sumber Gambar : Pexel.com

Mengapa kegelisahan ini tertuju kepada makhluk ?
Mengapa kekhawatiran ini disandarkan kepada keadaan ?
Mengapa kekecewaan ini terfokus ke peristiwa ?
Mengapa ketakutan ini dibebankan dengan sang waktu ?

Hemmm… ada yang salah

Aku membayangkan,
Jika seseorang melemparku dengan sebongkah batu
Apakah pantas menyalahkan keadaan ?
Apakah wajar bila waktu yang tidak tepat ?
Apakah pantas mendendam pada sebongkah batu ?

Jika ini masalahnya, naluri kita selalu mengarah kepada “Orang yang Melempar”
Jika ini masalahnya, otak kita segera berputar mencari siapa pelaku ‘Sebenarnya”
Jika ini masalahnya, emosi kita berlari kencang meminta¬† korban, seekor….”Kambing Hitam”

Dan jika begini logika yang benar maka….

Tidak sepantasnya jika ada permasalahan, aku langsung menunjuk hidung seseorang
Tidak sewajarnya jika ada kesulitan, aku langsung menyalahkan waktu dan keadaan
Tidak…tidaklah benar jika pilihanku adalah mendendam
Kecewa, Frustasi, Takut….

Maka yang benar adalah,
Allah…allah… allah

Allah lah yang mengatur ini terjadi
Allah lah yang mengijinkan ini berlaku
Allah lah ‘Sang Sutradara”

Lalu….?

Oh maafkan aku, saudaraku…
Maafkan aku karena engkau pun (mungkin) tak sadar telah menjadi bagian dari skenario Allah

Maafkan aku, waktu….
Engkau pun sama tak berdaya seperti kami

Duhai, Engkau Tuhanku
Kini aku telah paham
Bahwa, aku… membutuhkan-Mu
Selalu

Karena, semua yang terjadi,
Ketika di telusuri,
Adalah Kehendak-Mu

Ijinkan aku menghadap-Mu
Perkenankan aku mengadu di setiap sujudku
Lembutkan hatiku duhai Tuhanku
Agar aku bisa remuk redam dalam pertemuanku

Karena Engkau…. Sang Maha Sutradara

Semoga pemahaman ini, bisa menjadi sebuah titik
Titik awal yang menguatkan
Titik awal yang membersihkan
Membersihkan noda sakit hati, dendam, amarah dan kecewa

Jadikan aku hamba-Mu yang tidak menyalahkan saudaraku
Jadikan aku hamba-Mu yang tidak menyalahkan waktu dan keadaan

Jika memang semua yang terjadi adalah karena pekatnya dosa dan kesalahanku
Mohon jadikanlah semua “luka” yang terjadi padaku dalam permasalahan ini menjadi penebusnya
Jika memang semua yang terjadi adalah karena “Tingginya” do’a dan citaku
Mohon jadikanlah kesabaran dalam menghadapi permasalahan demi permasalahan menjadi wasilah
Wasilah…perantara untuk percepatan terkabulnya sebuah do’a dan cita

Aamiin.

Salam Satu Jari Tauhid

Reply